Sunday, August 13, 2006

Lelah dan Bosan

Kita sering sekali kadang merasa capek akan pekerjaan dan merasa sangat lelah dan enggan untuk melakukan pekerjaan itu lagi, ataupun sebaliknya terkadang kita akan pernah untuk merasa bosan dengan pekerjaan yang monoton itu-itu saja dan atau tanpa melakukan apa-apa, sehingga kadang kita merasa tidak mendapat tantangan.

Saya ingat akan kalimat bijak yang saya ingat sampe sekarang, berikut bunyinya :

“Manusia…., kadang kalau sibuk sekali dia akan berkata ’saya capek dengan hidup ini’, tetapi saat mereka tidak sibuk atau tidak melakukan apa-apa, mereka akan berkata ’saya bosan dengan hidup ini’”

Kalimat diatas seakan kadang akan membuat kita sedikit sadar, sadar untuk selalu mensyukuri kadang kita diberi waktu untuk benar-benar merasa sibuk bahkan sangat sibuk dan juga sadar bahwa terkadang kita diberi waktu senggang untuk ber-istirahat barang sebentar, ber-istirahat untuk dapat menghimpun semangat dan tenaga dimana suatu waktu nantinya kita akan menghadapi pekerjaan yang sibuk dan ‘under-pressure’.

Saya tidak akan mengingkari bahwa terkadang saya adalah bagian yang kurang dapat melihat sisi tersebut, saya juga terkadang merasa capek, lelah, sibuk, dan bosan karena pekerjaan yang berat dan musti jauh dari orang-orang terdekat saya, orang yang saya sayangi, termasuk keluarga. Ini mungkin bagian dari siklus kehidupan, seakan saya berpikir akan sampai kapan saya akan seperti ini, apakah ini semua akan berakhir.. suatu pertanyaan yang mungkin akan diajukan oleh orang lain yang juga memiliki permasalahan yang semacam saya.

Saya juga belajar untuk melihat kalimat bijak diatas sebagai sesuatu yang harusnya atau patut untuk bisa kita syukuri, bahwa Tuhan juga masih mempercayakan kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat dan terkadang memberi kita sedikit waktu untuk bernafas menghimpun tenaga dan pikiran kita, memberi waktu untuk berdampingan dengan orang-orang disekitar kita.

Siapapun yang masih hidup di dunia ini pertanda bahwa mereka masih perlu belajar banyak tentang arti kehidupan itu sendiri

Posted by pangea99 at 18:49:50 | Permalink | No Comments »

Sunday, August 6, 2006

Nikmatnya Hidup

Nikmatnya Hidup

Selalu bersyukur akan membuat kita bahagia.

Beberapa cerita berikut ini menggambarkannya…

Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada sopir
pribadinya, “Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?”

Si sopir menjawab, “Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai.”

Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi,
“Bagaimana kamu bisa begitu yakin?”

Supirnya menjawab, “Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu
mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang
saya dapatkan”.

Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan
kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa
diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak
bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan
tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama, kita sering
memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita
miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan
tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.

Pikiran Anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi
oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang
mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak
mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah
mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas,
kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki
kita tak pernah menjadi “kaya” dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang “kaya”. Orang yang “kaya”
bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang yang dapat menikmati
apapun yang mereka miliki
. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki
keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak
tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang
sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang
Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.

Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan
orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.

Seorang pengarang pernah mengatakan, “Menikahlah dengan orang yang Anda
cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.” Ini perwujudan rasa
syukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat
membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat
seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek
berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan
membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain
lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai,
lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.

Rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di
pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa.
Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, “Lulu, Lulu.”

Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang
ini. Si dokter menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh
Lulu.”

Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut
melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan
berteriak, “Lulu, Lulu”.

“Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?” tanyanya keheranan.

Dokter kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.”

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.

Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi.

Cerita terakhir adalah mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut
karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa
demikian, ia menjawab, “Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama
sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat,
saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi
kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa
dengan anak pertama saya di surga.”

Posted by pangea99 at 17:33:07 | Permalink | No Comments »

Saturday, August 5, 2006

Kebenaran

Kebenaran memang terkadang menyakitkan… itu kalimat yang akan saya mulai dari edisi blog saya kali ini, di dalam hidup ini tidak semua kebenaran menyenangkan.. tetapi pada kahirnya akan terasa nyaman dan menyenangkan.

Saya pikir semua orang setuju bahwa kita dalam hidup di dunia musti jujur, baik jujur kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, kerja dan utama kepada Tuhan. Kejujuran mempunyai korelasi yang cukup erat dengan yang namanya kebenaran, kebenaran suatu berita berarti kejujuran dalam memberikan informasi. Dalam hal ini benar bukan berarti “benar” tetapi kebenaran dalam artian ” jujur mengatakan sesuai dengan hati nurani “.

Saya sewaktu kecil selalu dituntut untuk berbicara kebenaran suatu fakta / kejujuran, maka dalam setiap interview kerja selalu dari pihak HRD mengatakan “kamu ini terlalu jujur”, dalam hati saya hanya berucap “hey… that’s me…”, begitu pula saat menyampaikan pendapat serta suatu kebenaran kerja… saya tidak akan mengucapkan kata “kemungkinan” untuk suatu angka pasti, saya ambil contoh dalam pekerjaan saya:

Suatu waktu kita akan melakukan proposed well / pengajuan suatu sumur pengeboran minyak lepas pantai, kemudian dari hasil intepretasi secara geologi dan geofisika, dari data atas permukaan (seismik, foto satelit, korelasi dengan sumur sebelah, dsb.) menyatakan bahwa sumur ini mempunyai kelayakan dan atau kemungkinan / probabilitas untuk mendapatkan minyak sekian prosen, yang berarti sisanya adalah kegagalan… saya tetap akan menyatakan jangan berharap lebih dengan sumur yang memiliki probabilitas yang kecil dan saya pikit hal itu masuk akal dan normal, tetapi beberapa orang menyangkalnya dengan berpikiran saya tidak berharap sumur tersebut berhasil, bagaimana mungkin pikirannya sepicik itu?? saya hanya mengatakan dengan probabilitas sekian prosen jangan berharap lebih.. saya pikir suatu kewajaran

Saya selalu ingat apa kata Mamah dan Ayah saya sewaktu pertama kali kerja, “Bekerjalah yang benar dan selalu jujur dalam bekerja”, hidup ini cuman sekali dan kesempatan kita hanya sekali untuk berbuat jujur, mengatakan TIDAK untuk sesuatu yang tidak benar dan berlawanan dengan aturan serta berani mengatakan IYA untuk sesuatu yang benar dan tidak melawan aturan. Hidup memang keras dan membutuhkan orang berani untuk berpikir dan bertindak meski terkadang melawan aturan/norma yang ada..

Anda punya pilihan, melawannya atau hanya akan bermain di belakangnya mencari amannya

Posted by pangea99 at 10:29:33 | Permalink | No Comments »

Thursday, August 3, 2006

Tokoh Idola

TOKOH IDOLA

Apabila kita ditanya, siapakah tokoh idola kita? kebanyakan orang akan menjawab si pemain film, si bintang film dan si presiden dan banyak lagi….
Tetapi pernahkah kita mendengar ada orang menjawab bahwa tokoh yang di-idolakannya adalah figur orang tuanya?? (ayah dan ibu-nya), hal ini kelihatannya jarang yah…., masih ingat film armaggedon yang diputar di R*TI tgl 20 Agustus malam, disitu si anak cewek pertama kali sama sekali nggak mengidolakan Ayah-nya (pemeran utama), tetapi pada akhirnya dia berkata saat terakhir bertemu

Aku juga bohong kalau aku tidak ingin seperti kamu…semua hal tentang kebaikanku berasal darimu, Yah

Hal inilah yang patut direnungkan… sudahkah kita justru mengidolakan tokoh/figur ayah-ibu kita? apapun yang mereka lakukan pada anaknya pasti tidak akan “memberikan batu, saat anaknya meminta roti…atau memberi kalajengking saat anaknya meminta ikan“, merekalah figur yang patut dibanggakan…. kita bisa hidup sampai sekarang, karena kerja keras mereka….. dan BUKAN si pemain film, presiden, atau figur lain yang kita idolakan.

Regards,

Posted by pangea99 at 15:27:46 | Permalink | No Comments »

Masalah Perspektif

Dalam tulisan saya kali ini, saya ingin membahas tentang masalah perspektif, ini cukup krusial ternyata bagi kita semua… saya sendiri coba untuk belajar dan ternyata sangat sulit… bahkan hingga sekarang.

pertam kali saya buka dulu dengan kalimat berikut:

‘banyak orang menghabiskan waktu untuk berpikir bagaimana penampilan mereka, tetapi sedikit waktu yang digunakan untuk berpikir bagaimana seharusnya mereka melihat’

kita dalam hidup ini selalu melihat bahwa penampilan adalah nomor satu, terkadang kita meliihat seseorang, baik itu teman, orang lain, ataupun seseorang yang mencoba mendekati kita (pendekatan) dengan melihat penampilannya….

apabila orang tersebut memiliki muka sedikit aneh, bibir sumbing, gigi ompong, dll kita melihatnya secara penampilan, TETAPI pernahkah kita berpikir BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA MELIHAT, masalah perspektif menjadi sangat penting.

orang dengan penampilan kurang, tetapi akan menjadi sangat baik apabila kita mencoba tidak melihatanya dengan penampilan. cobalah kita sadari hal ini, berilah orang kesempatan, dan biarlah kita berpikir lebih banyak bagaimana seharusnya kita melihat seseorang bukan lagi dari penampilan. jikalau belum ada yang memberitahu, maka beritahukanlah sekarang juga…. terima kasih

Posted by pangea99 at 15:17:47 | Permalink | No Comments »