Selamat Natal
Saya ingin mengucapkan
SELAMAT NATAL
&
TAHUN BARU
Semoga Damai Natal selalu beserta kita semua, dan kasih Tuhan beserta kita
Saya hendak pulang ke Jogja dan tidak akan masuk kantor sampe dengan 5 Januari 2007 hehehe
Saya ingin mengucapkan
SELAMAT NATAL
&
TAHUN BARU
Semoga Damai Natal selalu beserta kita semua, dan kasih Tuhan beserta kita
Saya hendak pulang ke Jogja dan tidak akan masuk kantor sampe dengan 5 Januari 2007 hehehe
(bagi Anda yang belum menyadarinya, sebenarnya ketika Anda membaca blog ini, Anda sekaligus dapat mendengarkan lantunan musik dari blog ini… cuman apakah headphone available ditempat anda..?)
Dalam hidup kita apakah terkadang kita dihadapkan dalam suatu situasi dimana Anda bingung apakah hendak melangkah, mundur, atau diam di tempat..? hasil dari diskusi saya dengan sahabat saya sang penjual angkringan bahwa dalam hidup ini entah hidup, pekerjaan, bisnis dan sebagainya kita musti sadar akan 3 hal penting yang harus di-ingat dalam-dalam, yaitu…
MAU, MAMPU, dan BISA
MAU
Tentunya dalam hidup ini semua orang tak terkecuali memiliki kemauan, kata mau ini berarti lebih kepada agresifitas kita untuk dapat mencapai sesuatu, entah itu profit (bisnis), karir, pekerjaan, dan sebagainya
MAMPU
Setiap orang pasti dibekali dengan kemampuan finansial atau skill, dan setiap orang pasti bisa jikalau orang mau belajar, Kemampuan menjadi kunci utama untuk bisa berjalan, entah itu
BISA
Ini lebih ditekankan pada faktor eksternal
Saya akan ambil contoh dalam hidup ini, ketika Anda akan berbisnis.. dimana pasti kita memiliki KEMAUAN (faktor MAU), dan dari faktor eksternal (BISA) tidak ada masalah, tetapi tidak memiliki KEMAMPUAN (faktor mampu) secara finansial misalkan.. maka Anda akan mengalami kesulitan
Contoh lain adalah apabila anda ingin menjadi pencuri, soal KEMAUAN ada (misal Anda ingin cepat kaya), serta soal KEMAMPUAN ada juga (setiap orang punya bakat mencuri… termasuk mencuri waktu saat sekolah dulu), tetapi dari faktor BISA (faktor eksternal) tidak bisa, karena mungkin bertentangan dengan hati nurani
kan..
3 hal diatas tentunya memiliki peranan yang saling berkaitan, dari faktor internal, dan juga eksternal akan sangat saling mendukung, tanpa kehadiran ketiganya secara bersamaan tentunya akan sedikit tidak imbang.
Hal ini semoga dapat menjadikan kita lebih mawas akan segala hal yang mungkin akan dihadapkan kepada kita, perjuangan belum selesai..
Sebuah Pelajaran Dari Ayah
Anda dapat mempertahankan hidup dengan apa yang Anda dapatkan, tetapi Anda
menciptakan kehidupan dengan apa yang Anda berikan. (anonim)
Kehidupan berbisnis merupakan hal yang wajar dalam keluarga kami. Kami tujuh
bersaudara, dan semuanya pernah bekerja di toko milik ayah saya, “Toko
Perabotan Kita”, di Mott, Dakota Utara, sebuah kota kecil di padang rumput
yang maha luas. Kami mulai bekerja dengan melakukan pekerjaan sehari-hari
seperti beres-beres, menata rak dan membungkus barang, kemudian dinyatakan
lulus jika sudah diizinkan melayani pembeli. Sambil bekerja dan
memperhatikan, kami belajar bahwa bekerja lebih dari sekedar bertahan hidup
dan berhasil menjual sesuatu.
Ada satu pelajaran yang terpatri kuat dalam benak saya.
Peristiwanya terjadi beberapa waktu menjelang Natal. Saya masih duduk di
kelas dua SMP dan bekerja di sore hari, menangani bagian mainan. Seorang
anak laki-laki berusia sekitar lima atau enam tahun masuk ke toko. Dia
mengenakan mantel lusuh bertambalan dengan manset yang sudah usang.
Rambutnya acak-acakan, kecuali sebuah jambul yang mencuat di ujung
kepalanya. Sepatunya sudah menganga dan salah satu talinya sudah putus. Anak
lelaki itu tampak seperti anak miskin. Begitu miskinnya sehingga tak bisa
membeli sesuatu. Dia melihat-lihat ke sekeliling bagian mainan dan mengambil
sebuah mainan, meletakkannya kembali dengan hati-hati ke tempatnya semula,
lalu mengambil mainan yang lain, dan begitu seterusnya.
Ayah menuruni tangga dan melangkah menghampiri anak itu. Mata birunya yang
seperti baja tampak tersenyum dan lesung pipinya tampak jelas ketika ia
bertanya kepada si anak apakah yang bisa dia lakukan untuknya.
Anak itu menjawab bahwa dia sedang mencari hadiah Natal untuk saudara
lelakinya. Saya sangat terkesan melihat cara ayah memperlakukan anak kecil
itu seakan-akan dia seorang pembeli yang sudah dewasa. Ayah mengatakan agar
si anak melihat-lihat saja dulu. Anak itu menuruti saran ayah.
Setelah 20 menit berlalu, dengan hati-hati anak kecil itu mengambil sebuah
kapal-kapalan. Dia melangkah menghampiri ayah dan bertanya, “Berapa
harganya, Pak?”
“Kamu punya uang berapa?” tanya ayah kembali.
Si anak mengulurkan tangannya dan membuka telapaknya. Garis-garis tangannya
tampak kotor dan basah karena mengepal uangnya. Di telapak tangannya ada dua
keping uang 10 sen, sekeping 5 sen, dan 2 keping 1 sen.
27 sen semuanya. Harga kapal-kapalan yang diambilnya adalah $3,98.
“Wah, uangmu pas sekali,” kata ayah, dan menjual mainan itu pada si anak.
Jawaban ayah masih terus terngiang di telinga saya sampai sekarang. Saya
memikirkan apa yang baru saja saya saksikan sambil membungkus hadiah itu .
Ketika si anak melangkah keluar dari toko, saya tidak lagi melihat seorang
anak bermantel kotor dan lusuh, berambut acak-acakan, atau bersepatu dengan
tali putus sebelah. Yang saya lihat adalah seorang anak yang bercahaya
karena memiliki harta yang sangat berharga. (LaVonn Steiner)
2006 ini kami sekeluarga akan menyambut Natal, Natal pertama dimana tanpa kehadiran ayah…
jikalau saya ingat bagaimana ayah saat bulan Desember tahun 2005 dengan keadaannya sungguh sebuah lompatan jauh kebelakang, dimana jarang orang akan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang ditinggalkan apabila belum pernah merasakannya… menjadi ingat ada sebuah kata-kata yang sangat baik yang saya kutip berikut…
” Manusia tidak akan pernah merasakan sesuatu itu sangat berharga sebelum dia ditinggalkan selamanya ”
Natal menjadi tanda suatu kelahiran sang penebus dunia, Yesus Kristus dimana suatu kelahiran baru, semangat baru dan jendela baru untuk menatap masa depan yang lebih cerah
Nilai-nilai humanitas yang ditinggalkan ayah kami kepada anak-anaknya sungguh merupakan hadiah Natal setiap tahun, nilai itu tidak akan lekang dimakan usia dan waktu tentang bagaimana melihat sesuatunya dengan kesederhanaan dan nilai filosofis Jawa ’sak madyo’ menancapkan manusia menjadi pribadi utuh untuk tidak membeci karena orang lain mendapat lebih baik dan lebih menguntungkan…
bercermin pada diri sendiri menjadi kunci hidup untuk selalu melihat sejauh mana kami sudah melangkah dan bukan lagi menghitung berapa jauh lagi kami musti melangkah
Tahun 2006 akan menjadi tahun yang cukup memberikan pukulan berat bagi kami sekeluarga, meski saya tahu dan yakin Tuhan punya rencana lebih baik dari itu, tetapi bahwa sebagai manusia disadari kejadian ini merupakan pukulan berat dan telak bagi kami juga tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dianggap remeh serta sebelah mata. Semua menjadi komposisi yang cukup seimbang… meski rencana baik itu belum saya temukan/rasakan…
kiriman dari seorang teman via e-mail…
======================================
Sekelompok pelajar kelas geografi belajar mengenai “Tujuh Keajaiban Dunia”.
Pada akhir pelajaran, pelajar tersebut di minta untuk membuat daftar apa
yang mereka pikir merupakan “Tujuh Keajaiban Dunia” saat ini.Walaupun ada
beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi :
1. Piramida Besar di Mesir
2. Taj Mahal
3. Grand Canyon
4. Panama Canal
5. Empire State Building
6. St. Peter’s Basilica
7. Tembok China
Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar,
seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi,
sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan
daftarnya.
Gadis pendiam itu menjawab, “Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena
sangat banyaknya. ” Sang guru berkata, “Baik, katakan pada kami apa yang
kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya.”
Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca,”Saya pikir Tujuh Keajaiban Dunia
adalah :
1. Bisa bersyukur
2. Bisa merasakan
3. Bisa tertawa
4. Bisa mendengar
Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan…
5. Bisa berbagi
6. Bisa mencintai
7. Dan bisa dicintai
Ruang kelas tersebut sunyi seketika …. Alangkah mudahnya bagi kita untuk
melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya “keajaiban” sementara kita
lihat lagi semua yang telah Tuhan lakukan untuk kita, menyebutnya sebagai
“biasa”.
Semoga Anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul-betul ajaib
dalam kehidupan anda. bersyukurlah untuk apa yg telah anda dapatkan sampai
saat ini, .. karena itu sesungguhnya semua merupakan suatu “keajaiban”.
Sore teng pk 1700 langsung aku tancap keluar gedung menuju Bendungan Hilir dengan menggunakan kuda besiku, sesampainya di tempat pertemuan kami… dia sudah berdiri.. dan ‘saling senyum’ karena lama tak berjumpa semenjak di Jogja dan di Samarinda (East Kalimantan)
Bowo ini dulu sempat kerja di perusahaan tambang batubara di Kalimantan timur, saat saya masih di Total Indoensie sering saya berkunjung ke samarinda dan kami selalu terlibat pembicaraan yang cukup ‘berat’ dan hingga larut malam, kemudian beberapa minggu setelah saya resign dari Total indonesie karena alas an keluarga dan diapun juga resign dari sana karena alas an pribadi, tetapi perlu di-inget bahwa keluarnya dia dari perusahaan lama bukan karena saya keluar dari Total yah…
Setelah dia mandi dan sempatin ngobrol sebentar denganku, kami meluncur lagi ke seputaran Jakarta dan kami sempatin untuk makan juga di soto gebrak di bilangan setia budi Jakarta selatan. Kami berbicara panjang lebar tentang pekerjaan, kehidupan dan banyak hal yang bisa membuat kita ‘HARUS MERASA MEN-SYUKURI’ hidup ini
Terkadang kami bicara semacam ini (A: Anton) dan (B: Bowo)
A : “Lha pie, nang kono gaji se-sasi podo ae gajiku meh enem sasi Wok”
B : “O iyo…??”
A : “Iyo… berarti 1 tahun dewekno ki 6 tahun aku”
B : “Iyo yoh… gedhe banget…., tetapi podo ae nak aku ndelok kowe..”
A : “Maksutmu..?”
B : “Gajimu se-sasi kuwi gajiku 6 sasi juga..??”
A : “Ooo iyo juga yo… “ (aku berpikir panjang dan dalam..) “Dadi uwong ki saling ndangak yo..?”
B : “Iyo…”
A : “Pancen urip ki wang-sinawang sih… angel juga…”
B : “pancen bener…”
Sebuah percakapan singkat untuk mengehntikanku dan terus berpikir…, dan akhirnya Sabtu pagi Bowo rekanku pulang kemabli ke Purwakarta.
Percapakan tadi membuat kita untuk selalu menyadari posisi dan arti pentingnya ‘BERSYUKUR’