Saturday, January 27, 2007

Jan 27 2007

today is saturday, you what? this day my company has a special event. they call it as Petronas Carigali Building Management that held on Gunung Geulis, Bandung. Acctually they also invite me to join but as you know I have to supervise geological and drilling on the rig, offshore east java.

that’s OK… because after I get down from here, I will take long days-off in Jogjakarta… hehehe, the best place in my life. See you and have fun…

Posted by pangea99 in 08:07:18 | Permalink | No Comments »

Thursday, January 18, 2007

When You Divorce Me, Carry Me Out in Your Arms

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku.
Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yg cuma berkamar satu.
Sahabat2ku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil.
Jadi kubopong ia memasuki rumah kami.
Ia kelihatan malu2. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia.
 
Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.
Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening:
Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang.
Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut.
 
Ia adalah pegawai sipil.
setiap pagi kami berangkat kerja bersama2 dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan.
Anak kami sedang belajar di luar negeri.
Perkawinan kami kelihatan bahagia.
Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak
kusangka2.
 
Dew hadir dalam kehidupanku.
 
Waktu itu adalah hari yg cerah.
Aku berdiri di balkon.
dengan Dew yg sedang merangkulku.
Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya.
ini adalah apartement yg kubelikan untuknya.
 
Dew berkata , “kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis. “
Kata2nya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku.
Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi
para gadis. ”
Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu2.
Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku.
Tapi aku tidak sanggup menghentikannya.
Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, “kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor”.
Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.
 
Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku, walaupun kelihatan tidak mungkin.
Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku.
Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka.
Sejujurnya, ia adalah seorang istri yg baik.
Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam.
Aku duduk santai didepan TV.
Makan malam segera tersedia.
Lalu kami akan menonton TV sama2.
Atau, Aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew.
Ini adalah hiburan bagiku.
 
Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan? “
Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara.
Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari ia.
 
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.
 
ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku.
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala
sesuatu selama berbicara dengan ia..
 
Ia kelihatan sedikit kecurigaan, Ia berusaha tersenyum pada bawahan2ku.
Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.
 
Sekali lagi, Dew berkata padaku,” Hei Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita
akan hidup bersama.”
Aku mengangguk.
Aku tahu aku tidak boleh ragu2 lagi.
Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya, “Ada sesuatu yg harus kukatakan”
Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara.
Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya.
Tiba2 aku tidak tahu harus berkata apa.
Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir.
“aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.
Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata2ku, tapi ia bertanya secara lembut, “kenapa?”
“Aku serius. ” Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah.
Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,”Kamu bukan laki2!” .
 
Pada malam itu, kami sekali saling membisu.
Ia sedang menangis..
Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami.
Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah
dibawa pergi oleh Dew.
 
Dengan perasaan yg amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan
30% saham dari perusahaanku.
Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian..
Aku merasakan sakit dalam hati.
Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku.
Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah kuucapkan.
 
Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya.
Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku.
Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi ..
 
Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku.
Aku melihat ia sedang menulis sesuatu.
Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis.
Aku tertidur kembali.
Ia menuliskan syarat2 dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu
sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.
Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan
lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.
Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,” Hei Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki
rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?
Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku .
Aku mengangguk dan mengiyakan.
“Kamu membopongku dilenganmu”, katanya, “jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap
membopongkuku pada waktu perceraian kita.
Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu .”
Aku menerima dengan senyum.
Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan
suasana romantis.
 
Aku memberitahukan Dew soal syarat2 perceraian dari istriku.
Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya.
“Bagaimanapun trik yg ia lakukan,ia harus menghadapi hasil dari perceraian
ini,” ia mencemooh.
Kata2nya membuatku merasa tidak enak.
 
Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu.
kami saling menganggap orang asing.
Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah.
Anak kami menepuk punggung kami, “wah, papa membopong mama,mesra sekali”
Kata2nya membuatku merasa sakit..
Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku.
Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,” mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita.”
Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu.
Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.
 
Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah.
Ia merebah di dadaku, Kami begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi di bajunya.
Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita
ini.
Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi. beberapa kerut tampak di wajahnya.
 
Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “kebun diluar sedang dibongkar. hati2 kalau kamu lewat sana.”
 
Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan
aku masih membopong kekasihku dilenganku.
 
Bayangan Dew menjadi samar.
 
Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju2ku yg
telah ia setrika, aku harus hati2 saat memasak, dll.
Aku mengangguk.
Perasaan kedekatan terasa semakin erat.
Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.
 
Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat.
Aku berkata padanya, “kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang”
 
Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya
keluar.
Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok.
Lalu ia melihat, “semua pakaianku kebesaran”.
Aku tersenyum. Tapi tiba2 aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat.
Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati.
Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit Tanpa sadar ku sentuh kepalanya.
Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa, sudah waktunya membopong mama keluar”. Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting .
Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan
erat.
Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir.
Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami.
aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan
kami.
Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.
 
Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat.
Anak kami telah kembali ke sekolah.
ia berkata, “sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua”
Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.
 
Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya.
Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah.
Aku menaiki tangga.
Dew membuka pintu.
Aku berkata padanya,” Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius”.
Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. “Kamu tidak demam”.
Kutepiskan tanganya dari dahiku “maaf, Dew, Aku cuma bisa bilang maaf padamu, Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan
rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”
Dew tiba2 seperti tersadar.
Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dgn kencang dan tangisannya meledak.
 
Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor.
Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku Penjual
bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan?
Aku tersenyum, dan menulis ” Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua..”
Posted by pangea99 in 09:48:27 | Permalink | No Comments »

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Selama Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

 

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

 

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

 

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

 

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

 

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

 

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

 

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

 

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

 

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

 

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu !”

 

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.

 

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
 

 

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..

 

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Posted by pangea99 in 01:33:36 | Permalink | No Comments »

Tuesday, January 16, 2007

tak berhenti berharap

Puisi dikirim seorang teman baik.. saudaranya sedulur sinorowedi : 

 

 

 

Sugguh tak kusangka badai di km 365 ini belum juga berlalu,


 

Badai ini hadir di hari kedua dan menit ke sembilan puluh enam,

 

Semakin mendekati angka ke-5 menit 2 justru semakin kencang,

 Semakin berat untuk dihadapi dan dihadang,  

 

Tubuh rapuh anak muda ini seakan tak kuat menahan,

 

Menahan senyum meski dibaliknya banyak beban dipikulnya,

 

Sisi keeping mata logam yang telihat mengkilap dan gelap disebaliknya,

 

Akankah mulut ini terus menerus menahan dahaga meski terlihat sudah kenyang,

 

 

Angka 70 untuk 7, sungguh perhitungan rumit dan berat dan tak masuk diakal,

Apa mau dikata semuanya harus dihadapi meski harus menutup mulut,

 

Sampai kapan pertahanan melawan badai ini bisa bertahan,

Meski sebagian benteng sudah mulai roboh dan runtuh,

 

 

Sebuah perjalanan berat dengan akhir yang tidak jelas,

Sebuah perjalanan panjang dan berliku,

 

Sebuah perjalanan tanpa tau ujungnya jalan,

 

Ini semua sebuah perjalanan hidup, 

Posted by pangea99 in 11:43:46 | Permalink | No Comments »

SAFETY RIDING

Keamanan berkendara atau dikenal dengan bahasa popular SAFETY RIDING

 

Kenapa saya membuat topic dib log ini tentang SAFETY RIDING…?? Sebetulnya hal ini terjadi saat hari Minggu ( Jan 7, 2007 ) kemarin, dimana saat itu aku sedang naik motor hendak ke gereja Matraman Jakarta Pusat.

 


 

Di sambi saat aku berjalan dengan santai, tiba-tiba dari kanan melaju cukup cepat sepeda motor berboncengan dengan ibu cukup tua sekitar 50 tahunan lebih diboncengkan dan anehnya si ibu ini tadi TIDAK MENGGUNAKAN HELM !! Helm tersebut dia bawa alias di-tenteng saja, tetapi tidak digunakannya.. sesambil disalipnya saya cumin bisa geleng-geleng saja melihat pola tingkah orang yang saya rasa cukup aneh

 

 

Memang si Ibu ii tadi udah berdandan dengan cukup menarik, tetapi helm yang sedianya untuk perlindungan kepala justru malah tidak dipergunakannya dengan benar dan malah hanya dijinjing saja seperti keranjang habis ke pasar.

 

 

Helm ini dipergunakan untuk perlindungan kepala, entah itu helm kendaraan, helm pekerja, atau yang lain. Saya masih inget bagaimana saya terlempar beberapa meter dari Yamaha RZR saya setelah tertabrak hartop dan untungnya karena menggunakan helm ‘full face’ atau biasa dikenal dengan helm ‘cakil’ meski kepala aku mbentur duluan ke aspal tetapi sokur tidak apa-apa.. hal ini memperlihatkan bahwa helm menjadi parameter sangat penting dalam berkendara

 

 

Setiap kali juga mamah dan apaphku selalu mengingatkan untuk selalu menggunakan helm standart, dikancingkan, selalu lihat spion, menggunakan sein, dsb.. hal-hal yang bagi orang muda mungkin remeh-temeh (seperti misalnya spion kanan-kiri yang dipasang seperti orang berdoa lah…seperti tanduk sapi/banteng lah).. tetapi apabila terjadi kecelakaan tentunya kita sendiri akan merasa rugi, saya masih inget bagaimana pesan ortu setiap kali, “ Kamu ini masih muda, jikalau gegar otak dan lumpuh atau tidak normal, masa depanmu akan seperti apa.. semua itu demi masa depanmu sendiri..” dan ini selalu aku inget.

 

 

Penampilan tidak diukur dari Anda memakai pelindung penuh atau tidak, tetapi bagaimana sikap Anda melihat secara global…

 

 

Hal itu bukan hanya untuk kehidupan sehari-hari, orang yang hebat bukan dilihat dari penampilan… tetapi bagaimana me-respon terhadap masyarakat sekitar, kaum tersisih dan sebagainya… begitupula SAFETY RIDING.. penggunaan helm tidak akan menutup kecantikan/kecakepan kita, tetapi justru memperlihatkan bahwa Anda juga mencintai diri Anda

 

 Semoga ini menjadikan koreksi bagi kita semua, sudah saatnya kita menjadi SADAR dan bukan hanya TAU, karena itu dua hal yang berbeda

Posted by pangea99 in 10:54:55 | Permalink | No Comments »

Hidup Bukanlah Suatu Lomba

Seorang ibu duduk disamping seorang pria dibangku dekat Taman-Main CJ di
West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah.


“Tuh.., itu putraku yang disitu,” katanya, sambil menunjuk kearah seorang
anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan.

“Wah, bagus sekali bocah itu,” kata bapak itu. “Yang sedang main ayunan di
bandulan pakai T-shirt biru itulah anakku,” sambungnya.

Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya.

“Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?”

Jack, setengah memelas, “Kalau lima menit lagi, boleh yahhh, sebentar lagi,
ayah, boleh kan?”

“Cuma tambah lima menit kok, yaaa…?”

Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan memuaskan hatinya.

Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi.

“Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?” Lagi-lagi Jack memohon,

“Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya?”

Pria itu bersenyum dan bilang, “OK lah, iyalah…”

“Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar,” ibu itu menanggapinya.

Pria itu tersenyum, lalu berkata, “Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu
terbunuh selagi bersepeda dekat-dekat sini. Oleh sopir mabuk. Aku tak pernah
memberikan cukup waktu untuk bersama John, sekarang apapun ingin kuberikan
demi dan asal saja saya bisa bersamanya biar- pun hanya untuk lima menit
lagi. Aku bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap
Jack. Ia pikir ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun. Padahal,
sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia
bermain.”

Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat prioritas.
Prioritas apa yang anda miliki saat ini? Berikanlah pada seseorang yang kau
kasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan
menyesal selamanya.

Posted by pangea99 in 03:34:51 | Permalink | No Comments »

Sunday, January 14, 2007

Weekend tidak selalu asyik..

Weekend di jakarta tuh tidak terlalu asyik,

itu kiranya topik kali ini yang ingin aku coba angkat, hal tersebut dimungkinkan karena aku ni di Jakarta merupakan perantauan dari Jogja. Yah.. gimana lagi yang namanya sawahnya di Jakarta alias cari duit nya di Jakarta.

Setiap kali aku di Jakarta di hari Sabtu-Minggu sepertinya nggak terlalu asyik, tidak se asyik di Jogja looh. Di kota gudeg tersebut aku bisa bebas kesana kemari bercengkerama dengan masyarakat Jogja yang santun dan terasa begitu dekat, dimana saking dekatnya aku dengan Jogja sampai-sampai ada rasa takut untuk pergi jauh dari Jogja.

Mungkin hal ini terkesan sangat aneh yah..? tetapi bagaimana ya karena sejak dari kecil hingga lulus kuliah hampir lama berada di Jogja meski sempat 1 tahun di Perancis negerinya om Napoleon Bonaparte, tetapi tetap saja Jogja merupakan tempat tepat untuk barang sebentar menentramkan pikiran dan hati setelah sekian lama berada dalam kondisi panik-nya Jakarta.

Musim saat inipun di Jakarta sangatlah aneh, hujan tidak padahal musim penghujan.. tetapi malah panasnya menusuk tulang, serasa dipanggang saja berada di luar pada pukul 1100-1400 karena teriknya matahari tepat berada di atas kepala kita. Saya dengar tadi malam Jogja hujan sangat deras sekali, syukur lah kalau kota-ku hujan…

Tetapi diatas itu semua, tetap rasa syukur karena aku masih bisa melihat, merasa dan mendengarkan serta menyentuh keindahan yang Tuhan ciptakan.. rasa syukur akan jauh lebih bernilai daripada selalu merasa kurang..

Posted by pangea99 in 06:38:44 | Permalink | No Comments »

Thursday, January 11, 2007

mata hati

Sehari ini ada pertemuan di BPMIGAS untuk membahas AFE atau yang dikenal dengan nama Authorization For Expenditure dimana merupakan pembahasan berapa biaya yang harus keluarkan untuk pengeboran 1 sumur yang nantinya kalau (ini jikalau looh) berhasil akan di-cost recovery.

 

Banyak hal yang dibicarakan hingga siang ini baru selesai sesaat sebelum saya tulis ini blog. Di satu sisi lain saya juga banyak kerjaan non kerjaan alias kerjaan yang nggak ada hubungannya dengan kantor tempat saya bekerja ini dimana banyak sekali hal-hal yang menyita pikiran dan fokus kerja ini.

 

Terkadang emang dalam satu hari bisa workload nya gila-gilaan deh tetapi kadang dalam satu hari bisa nggak ada gawean atau kerjaan, tetapi ya semuanya dinikmati saja..

 

Suatu saat ketika dengan melakukan diskusi dengan sahabat sewaktu di jogja minggu lalu, aku sungguh trenyuh dan terharu bagaimana topik diskusi saat itu dimana kesimpulan kami tertumpu pada bahwa setiap pekerja yang dimulai dari level bawah secara ekonomi hingga akhirnya nanti menjadi sukses secara ekonomi juga maka akan tetap kelihatan perbedaannya dengan orang yang sudah pada awal mulainya dari level menengah atau atas secara ekonomi.

 

Semuanya bisa dilihat secara kasat mata, dari segi topik pembicaraan, penguasaan
gaya bicara, hingga cara pandang melihat (mata) nya, kesemuanya akan sangat lain dengan orang yang sukses secara ekonomi karena memulia dari level NOL.

 

Apakah saya senang dengan keadaan saya sekarang..? ya tentu bahwa saya sangat bangga… saya memiliki teman-teman yang benar-benar dekat bahkan sangat dekat dan kami punya keluarga yang sangat dekat, saya dengan mamah, dan juga dengan kakak-kakak saya serta suaminya dan bahkan dengan anak-anak mereka.

 

Kedekatan inilah kenapa saya setiap waktu ke jogja begitu bahagia, ada suatu kenangan yang selalu ingin kita ulang dan ulang terus, bahkan kita benar-benar ingin memanfaatkan detik-demi-detik kedekatan ini.

 

Kami hanya keluarga kecil dan sederhana, tetapi kelimpahan akan hubungan persaudaraan dan kekeluargaan ini tentu bernilai lebih dari sekedar kata ‘pantas’, kesemuanya hanya bagaimana kita bisa benar-benar merasakannya bukan dengan panca indera kita, melainkan dengan HATI

Posted by pangea99 in 07:07:29 | Permalink | No Comments »

Ketika Nenek Selesaikan Sekolah SMU

San Fransisco, Kamis

 

Seorang nenek asal Amerika, Josephine Belasco (99), pantas dicontoh. Lihat saja di usianya yang sudah senja, ia memilih untuk kembali ke sekolah demi menyelesaikan sekolah SMU-nya yang sempat tertunda selama 80 tahun.

 

Ia pun kini bisa tersenyum lepas ketika ia bisa mengenakan toga dan bersanding dengan para siswa-siswi–yang sebaya dengan cicitnya–Galileo High School, San Fransisco, dalam acara kelulusan yang berlangsung, Rabu (14/6) waktu setempat.

 

Senyum masih mengembang di wajah Belasco.  Ya, kini ia mengaku tak lagi punya beban hutang terhadap dirinya. “Selama ini saya selalu merasa kehilangan sesuatu,” kata Belasco, menjawab pertanyaan mengenai alasan ia ngotot menyelesaikan sekolahnya.

 

Kini, kebahagiannya seakan tak terbendung. Sebab, ia sendiri tak mempercayai semuanya ini.  Diakui Belasco, ia mulai sekolah di SMU Galileo ketika dibuka pertama kalinya pada tahun 1924. Usianya saat itu 18 tahun dan ia baru saja menjadi warga San Fransisco, setelah keluarganya memilih pindah dari tanah kelahirannya di Calabria, Italia.

 

Nenek yang lahir pada November  1907 itu pun lantas berkisah. Katanya, baru satu sementer menjalani sekolahnya, ia terpaksa keluar sekolah lantaran harus merawat saudara perempuannya yang sakit-sakitan.

 

Sekolahnya pun ditinggalkan dan ia memilih  bekerja di sebuah perusahaan asuransi agar bisa membantu kehidupan keluarganya. Selama  36 tahun ia menekuni kariernya sebagai akuntan.

 

Ia kemudian menikah, punya anak dan kini menjadi seorang nenek. Tapi status itu tak membuatnya loyo. Semangatnya masih menyala-nyala. Ia pun mengaku terinspirasi cucu laki-lakinya untuk kembali ke sekolah dan mendapatkan gelar diplomanya yang sempat tertunda.

 

Beruntunglah, niat Belasco tak sia-sia. Pihak sekolah masih menyimpan data-data miliknya. Nah, untuk bisa mendapatkan sertifikat itu, ia pun diharuskan mengikuti pelajaran khusus  bersama siswa-siswi Galileo lainnya.

 

“Saya pikir, astaga, jika saya dapat memperolehnya (ijazah), saya merasa hidup saya telah berhasil.”

 

“Saya seperti akan pingsan. Saya tak bisa mempercayainya,” kata Belasco usai mendapatkan ijazah kelulusannya.

 

Belajar dari kisah di atas, tidak ada kata terlambat dan tidak ada yang tidak bisa dicapai kalau kita melakukan dengan tekun. Dengan usaha yang tekun, semangat pantang menyerah, setiap orang seharusnya bisa mencapai apa yang menjadi harapannya.

Posted by pangea99 in 06:42:06 | Permalink | No Comments »

Wednesday, January 10, 2007

Percaya atau tidak kalimat dibawah ini muncul begitu saja sesaat sebelum pergantian tahun 2006 ke 2007,

Percayalah Kita Masih Bisa Mengatur Arah Angin

 

Dalam mengarungi hidup ini meskipun baru 25 tahun tetapi perjalanan nya juga tidak bisa dianggap sebelah mata, bagaimana saya merasa kita ini bisa mngatur Arah Hidup Kita… mau dibuat sedemikian rupa seperti yang kita mau, ingin menjadi pilot, dokter bahkan presiden sekalipun…. semua bagaimana kita membentuknya, kita sendiri yang mengatur arah tersebut dan bukan orang lain, menjadi dokter bagi teman dan sahabat yang sedang bersedih hati, presiden bagi diri sendiri, pilot saat menunggangi sepeda motor atau sepeda… kesemuanya  itu menjadikan bahwa kitalah yang membuatnya demikian

Hidup ini dapat dipermudah ataupun dapat dipersulit, kita sendiri yang mengaturnya.. apakah angin akan Anda menuju arah utara atau barat semuanya bisa… tanpa terkecuali, Anda mau menjadi orang kesepian atau menjadi orang yang tertutup (introvert) atau terbuka… semuanya terserah Anda, semua Anda yang mengaturnya

begitupula di tahun 2007 ini, sungguh awal yang tepat apabila Anda ingin menajdi lebih baik lagi… terlepas dari pandangan orang seperti apa, menjadi orang terbuka, fair, bebas, terlepas dari anggapan negatif dan sebagainya maka Anda akan lebih baikan daripada sekarang ini… percayalah

Bahkan musim pun dapat Anda ubah jikalau mau, Anda cuman tinggal memilih… memilih untuk diri Anda sendiri mana yang terbaik bagi Anda dengan segala kemampuan terbaik yang Anda kerahkan…

salam,

Posted by pangea99 in 07:35:00 | Permalink | No Comments »