Wednesday, March 28, 2007

Saya Bersamamu Sayang

 

Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan.  Mereka adalah pasangan yang saling mencintai dan anak itu adalah buah hati mereka. Saat anak tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat sebotol obat yang terbuka. Dia terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari.  Istrinya, karena kesibukannya di dapur sama sekali melupakan hal tersebut.

 

Anak itu melihat botol itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak memakannya semua.  Obat tersebut adalah obat yang keras yang bahkan untuk orang dewasa pun hanya dalam dosis kecil saja. Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. sang istri sangat takut dan ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.

 

Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.

 

PERTANYAAN :

1.         Apa 3 kata itu ?

2.         Apa makna cerita ini ?

 

 

JAWABAN :

Sang Suami hanya mengatakan “SAYA BERSAMAMU SAYANG” Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal,tidak bisa dihidupkan kembali.  Tidak ada gunanya mencari-cari kesalahan pada sang istri, lagipula seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan menyimpan botol tersebut maka hal ini tidak akan terjadi.

Tidak ada yang perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yang si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami dan itulah yang diberikan suaminya sekarang.

Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.   “Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil” Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.

 

MORAL CERITA

Kadang kita membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan orang lain atau siapa yang salah dalam sebuah hubungan atau dalam pekerjaan atau dengan orang yang kita kenal.

Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan antar manusia.

Posted by pangea99 at 04:28:58 | Permalink | No Comments »

Monday, March 26, 2007

Sang Alkemi

Diadaptasi dari: Hazrat Inayat Khan

Pernahkah anda mendengar istilah Alkemi? Alkemi dikenal sebagai sebuah ilmu yang mampu mengubah besi menjadi emas. Dalam banyak kisah, beberapa orang menganggapnya sebagai sebuah sihir belaka, tetapi yang lain percaya bahwa ilmu itu benar-benar ada. Dan, siapa yang tak tergiur untuk bisa menguasai ilmu alkemi? Hanya dengan kemampuan alkemi, ia bisa mengubah besi menjadi emas dan tentu menjadi kaya-raya.

 

Alkisah, di sebuah negara di Timur ada seorang Raja yang hendak mencari orang yang benar-benar mengerti tentang alkemi. Sudah banyak orang datang pada Raja, tetapi ketika diuji, mereka ternyata tidak mampu mengubah besi menjadi emas.

 

Suatu ketika seorang menteri berkata pada Raja bahwa di sebuah desa terdapat seseorang yang hidup sederhana dan bersahaja. Orang-orang di sana mengatakan bahwa ia menguasai ilmu alkemi. Segera saja Raja mengirimkan utusan untuk memanggil orang itu. Sesampainya di istana, Raja mengutarakan maksudnya ingin mempelajari ilmu alkemi. Raja akan memberikan apa yang diminta oleh orang itu.

 

Tetapi apa jawab orang desa itu, “Tidak. Saya tidak mengetahui sedikit pun ilmu yang Baginda maksudkan.”

 

Raja berkata, “Setiap orang memberitahu aku bahwa engkau mengetahui ilmu itu.”

 

“Tidak, Baginda,” jawabnya bersikeras. “Baginda mendapatkan orang yang keliru.”

 

Raja mulai murka dan mengancam. “Dengarkan baik-baik!” kata Raja. “Bila kau tak mau mengajariku ilmu itu, aku akan memenjarakanmu seumur hidup.”

 

“Apa pun yang Baginda hendak lakukan, lakukanlah. Baginda mendapatkan orang yang keliru”

 

“Baiklah. Aku memberimu waktu enam minggu untuk memikirkannya. Dan, selama itu kau akan dipenjara. Jika pada akhir minggu ke enam kau masih berkeras hati, aku akan memenggal kepalamu.”

 

Akhirnya orang itu dimasukkan ke dalam penjara. Setiap pagi Raja datang ke penjara dan bertanya, “Apakah kau telah berubah pikiran? Maukah kau mengajariku alkemi? Kematianmu sudah dekat, berhati-hatilah. Ajari aku pengetahuan itu.”

 

Orang itu selalu menjawab, “Tidak Baginda. Carilah orang lain. Carilah orang lain yang memiliki apa yang Baginda inginkan, saya bukanlah orang yang Baginda cari.”

 

Setiap malam ada seorang pelayan yang melayani orang itu dalam penjara.

Pelayan itu berkata bahwa Raja mengirimnya untuk melayani orang itu sebaik-baiknya. Pelayan itu menyapu lantai serta membersihkan ruangan penjara itu. Pelayan itu juga selalu mengantarkan makanan dan minuman untuk orang itu, memberikan simpati kepadanya, melakukan apa saja yang diminta oleh orang itu, dan bekerja apa saja selayaknya seorang pelayan. Pelayan itu selalu menanyakan, “Apakah anda sakit? Apakah ada sesuatu yang dapat saya lakukan untuk anda? Apakah anda lelah? Bolehkah saya membersihkan tempat tidur anda? Maukah anda bila saya mengipasi anda hingga anda tertidur, udara di sini panas sekali.” Dan, segala sesuatu yang bisa pelayan itu lakukan, maka ia lakukan saat itu juga.

 

Hari terus belalu. Dan, kini tinggal satu hari lagi sebelum kepala orang itu dipenggal. Pagi hari Raja mengunjungi dan berkata, “Waktumu tinggal sehari.

Ini kesempatan bagimu untuk menyelamatkan nyawamu sendiri.”

 

Tetapi orang itu tetap saja berkata, “Tidak Baginda. Yang Baginda cari bukanlah hamba.”

 

Pada malam hari, sebagaimana biasa pelayan itu datang. Orang itu memanggil pelayan itu untuk duduk dekat dirinya kemudian diletakkan tangannya di bahu pelayan itu dan berkata, “Wahai orang yang malang. Wahai pelayan yang malang. Engkau telah berlaku sunguh baik terhadap diriku. Kini aku akan membisikkan di telingamu sebuah kata tentang alkemi. Sebuah kata yang akan membuatmu mampu mengubah besi menjadi emas.”

 

Pelayan itu berkata, “Aku tak tahu apa yang kau maksudkan dengan alkemi.

Saya hanya ingin melayani anda. Saya sungguh sedih bahwa besok anda akan dihukum mati. Itu sungguh mengoyak hatiku. Saya harap saya bisa memberikan jiwa saya untuk menyelamatkan anda. Seandainya saya bisa, sungguh saya sangat bersyukur.”

 

Sang alkemi menjawab, “Lebih baik aku mati daripada memberikan ilmu alkemi ini kepada orang yang tidak layak menerimanya. Ilmu yang baru saja aku berikan kepadamu dalam simpati, dalam penghargaan, dan dalam cinta, tak akan kuberikan kepada Raja yang akan mengambil nyawaku besok. Mengapa demikian?

Karena engkau pantas menerimanya, sedangkan Raja itu tidak.”

 

Esok harinya, Raja memanggil sang alkemi dan memberikan peringatan terakhir.

“Ini adalah kesempatan terakhirmu. Kau harus mengajariku ilmu alkemi, bila tidak lehermu harus dipenggal.”

 

Sang alkemi menjawab, “Tidak Baginda, anda mendapatkan orang yang keliru.”

 

Raja pun, “Baiklah. Aku putuskan kau untuk bebas, karena kau telah memberikan alkemi itu padaku.”

 

Sang alkemi keheranan, “Kepadamu? Saya tidak memberikannya pada Baginda Raja. Saya telah memberikannya pada seorang pelayan.”

 

“Tahukah kau, bahwa orang yang melayanimu setiap malam adalah aku,” jawab sang Raja.

 

Renungan Editor: Banyak orang menginginkan emas dalam hidupnya dengan mempelajari alkemi. Tetapi saat ia mencapai tujuannya, bukan emas yang ia temukan, justru ia sendiri menjadi emas itu.

 

Sumber: Spiritual Dimensions of Psychology

Posted by pangea99 at 09:10:42 | Permalink | No Comments »

Kembali lagi

setelah sekian lama pulang dari anjungan lepas pantai, akhirnya kembali ke peradaban normal dimana aku berkumpul dengan orang-orang normal dan melihat banyak tumbuhan, tanah dan sebagainya..

seminggu kemarin aku di Jogja, untuk melepaskan lelahku.. selama di jogja sungguh suatu pengalaman yang sangat menyenangkan… aku bertemu keluargaku, berputar putar ke solo, jalan-jalan seputaran jogja dan banyak tempat lagi.. liburan di Jogja sungguh membuat semakin betah aja akan kota yang terbilang cukup unik ini, tetapi di lain pihak satuhal bahwa suatu waktu nanti aku harus meninggalkan Jogja, karena rumah di Jogja akan kita jual dan kita semua akan pindah ke Jakarta.. yah Jakarta yang sesak, penuh polusi yang sungguh tidak menyenangkan untuk dijadikan tempat tinggal, apalagi hari tua… huh…

Hal ini dikarenakan ibuku sendirian di Jogja sedangkan beliau sudah berumur dan anak-anaknya berada di Jakarta semua, kiranya sangat wajar dan normal apabila sang orangtua ingin berkumpul bersama anak-anaknya bukan ? bahkan aku sangat mendukung dan memahami benar apa yang di-inginkan beliau, aku tentu juga tidak ingin seiring bertambahnya umur beliau, justru malah tidak ada yang memperhatikan, memperhatikan sekedar dengan ngobrol yang hal ini tentunya akan sangat menyenangkan beliau, kiranya sudah saatnya anak untuk membaktikan diri kepada orangtua

Sungguh tentunya tidak mudah hidup sendiri di Jogja, sudah berumur dan ditinggal anak-anaknya di Jakarta bukan ? Esensi hidup ini dan kesemuanya akhirnya berujung pada, apa yang kita cari hidup ini..? mengisi kehidupan ini dan menikmatinya… ada banyak hal cara menikmatinya… menjadi seorang hedonis atau menikmati dalam arti men-syukuri apapun yang ada, mensyukuri bahwa aku punya kakak dan orangtua yang sayang kepadaku

Hidup ini akan menjadi susah tentu apabila kita menginginkannya demikian, dan begitupula sebaliknya apabila kita ingin hidup itu mudah.. maka akan menjadi mudah, semua tergantung bagaimana kita memandang hidup ini…

 

 

Posted by pangea99 at 09:03:19 | Permalink | No Comments »