Friday, May 30, 2008

BELAJAR DARI KELEDAI

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam
sumur. Hewan iu menangis dengan memilukan selama berjam-jam,
semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua
dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena
berbahaya);
jadi tidak berguna untuk menolong si keledai.
Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang
membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah
ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang
sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian.
Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai
menjadi diam.
Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam
sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan
tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop
tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan.
Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa
punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu

Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah
kotor ke atas punggung hewan itu,si keledai terus juga
menguncangkan badannya dan melangkah naik.
Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai
meloncati tepi sumur dan melarikan diri !

~~~

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran
kepadamu, segala macam tanah dan kotoran.
Cara untuk keluar dari ’sumur’ (kesedihan, masalah,
beban pikiran) adalah dengan menguncangkan segala tanah
dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan hati kita)
dan melangkah naik dari ’sumur’ dengan menggunakan
hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu
pijakan untuk melangkah.
Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam
dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !
Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan
melangkahlah naik !!!

“Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu
kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita
miliki saat ini !”

Posted by pangea99 at 09:22:15 | Permalink | No Comments »

Thursday, May 29, 2008

Pojok Nakal

 

Selalu ada ruang pujian bagi diri kita namun kadang tak tersedia ruang untuk segala kesalahan kita

Ada sebuah materi menarik ketika saya menonton talk show Oprah Winfrey di television, pada suatu pagi di saat saya sedang suntuk dengan kelakuan adik bungsu saya yang masih berusia 3 tahun. Dalam talk show tersebut, Oprah menghadiran seorang bintang tamu yaitu Super Nanny, dia adalah pengasuh anak paling laris di Amerika. Konon katanya sudah ratusan kali Nanny berhasil menghadapi tingkah laku anak - anak yang ‘nyeleneh’ dalam arti hyperactive, kasar, nakal & susah diatur. Nanny hanya mengajarkan satu hal pada anak-anak itu, yaitu: Minta maaf & mengakui kesalahan serta berjanji tidak akan mengulanginya kembali.

Super Nanny tidak menggunakan kekerasan fisik, yang sering kita temui pada masyarakat umumnya, dalam mendidik anak-anak ‘nakal’ itu. Tapi dia menggunakan method, ‘tempat nakal’.

Tempat Nakal bisa berupa carpet nakal, bangku nakal, atau kolong nakal. Di sekitar tempat nakal itu tidak dibangun ‘benteng’ berupa apapun. Jadi sebenarnya anak-anak itu bisa saja kabur namun mereka tidak bisa pergi karena Nanny mengawasi gerak-gerik mereka. Anak-anak yang bertingkah kelewat batas akan dimasukkan dalam tempat nakal itu. Mereka tidak boleh dipukul, tidak boleh dimaki kasar apalagi dibentak-bentak. Yang Nanny lakukan hanya meletakkan mereka di tempat nakal itu & diam!

Nanny tidak menghiraukan bila anak -anak itu menangis meraung, memukul-mukulnya bahkan berkata kasar padanya. Nanny hanya berkata, “kamu harus diam di sini sampai kamu sadar apa kesalahan kamu.” setelah itu Nanny pergi. Dia akan kembali menghampiri anak-anak itu bila mereka berhenti menangis. Dia akan mengeluarkan mereka dari tempat nakal bila sudah meminta maaf pada orang yang telah mereka jahati.

Setelah itu, Nanny akan memeluk mereka, mengelus punggung mereka penuh kasih sayang lalu memuji tindakan mereka yang mau meminta maaf. Setelah situasi sudah sedikit membaik, Nanny mulai memberikan pengertian apa kesalahan yang telah mereka perbuat.

Aku mencoba untuk menerapkannya pada adik bungsuku yang memang sudah mulai terlihat bandel. Aku meletakkannya ke pojok nakal yang ada di dalam kamar mamaku. Aku melakukan itu karena ia memukul wajah mama dengan sangat keras ketika tidak dibelikan mobil-mobilan. Saat aku meletakkan dia di pojok nakal, ia memukulku, aku mencoba diam, meniru sikap Nanny. Adikku berontak, ia berlari keluar kamar & aku menariknya kembali ke pojok nakal. Sampai empat kali seperti itu & adikku capek sendiri.

Dia bilang aku jahat! Dia menangis sedih, sebenarnya hatiku pilu mendengar itu semua. Tapi aku tetap pada pendirianku. Setelah adikku diam dari tangis, aku menghampirinya & berspeculation, “apa Ucha tahu apa kesalahan Ucha? Ucha tahu kenapa Ucha masuk ke pojok nakal?” tanyaku dengan keyakinan kalau anak umur 3 tahun sudah paham apa yang kita katakan.


Dan adikku menggeleng. Perlahan aku menjelaskan kesalahan yang ia perbuat, aku lakukan berulang-ulang sampai aku bilang, “Ucha ngerti kalau Ucha salah?”


Ia mengangguk. Aku melanjutkan kalimatku, “kalau begitu, Ucha harus minta maaf, ya, sama mama.”


“Iya… mama… maafin Ucha, ya,” ujar adikku masih dengan isak tangis.
Mamaku sedang ada di ruang tamu. Aku memeluk adikku erat & membimbing dia keluar dari pojok nakal. Aku menggendongnya & membawanya ke hadapan mama.


Saat melihat mama, adikku langsung memeluk mama & berpindah tempat gendongan. Ia tidak menangis meraung lagi, hanya air matanya saja masih menitik.
“Ayo Ucha, minta maaf lagi di depan mama,” ulangku.
“Ma… ma… Uchanya minta maaf…” ujar adikku yang membuat gemas.
Aku & mama menciumi pipinya. Diam-diam aku salut juga dengan caranya Nanny mendidik anak nakal. Terbukti setelah beberapa kali aku memasukkan adikku ke pojok nakal, adikku jadi lebih mudah diatur & bisa dinasehati dengan baik.


Ia tidak perlu dibentak lagi. Secara tidak langsung sikap ini bisa menimbulkan jiwa lembut pada anak serta mengajarkan anak untuk terus instropeksi diri.

Yang lebih hebat lagi, adikku sama sekali tidak takut kalau dia duduk sendirian di pojok ruangan manapun kecuali bila aku bilang, “itu adalah pojok nakal. Tempat anak nakal berada.”

Sejak saat itu aku selalu memberikan ia pilihan ketika ia susah sekali disuruh makan sayur, “mau menjadi anak baik atau anak nakal? Kalau anak baik harus rajin makan sayur. Ucha anak baik atau anak nakal?”


Dan adikku selalu menjawab, “Ucha anak baik!”

Malam ini kulihat Ucha tidur terlelap setelah aku mendongenginya sebuah kisah tentang Pangeran Ucha, ya, namanya sendiri. Aku ingin ia bangga pada dirinya namun ia juga sadar pada kelemahan & kesalahannya.

Mataku terpejam. Tersersit tanya yang mengiris hati. “Apakah aku sudah seperti Ucha? Yang mampu mengakui kesalahanku sendiri? Yang berdiam diri di pojok nakal untuk instropeksi?

Nampaknya aku juga butuh duduk sendirian di pojok nakal & kita semua sebagai manusia dewasa memang butuh sesekali untuk duduk di pojok nakal. Menemukan kesalahan kita & segeralah meminta maaf. Jadi teringat sebuah syair sebelum aku terlelap malam ini.

Setiap manusia di dunia pasti punya kesalahan hanya yang berjiwa pemberani yang mau mengakui…
Betapa bahagianya punya banyak teman betapa indahnya
Betapa bahagianya bisa saling menyayangi….

Posted by pangea99 at 05:06:34 | Permalink | No Comments »

I Love You

When U Were Only 5 Yrs Old
I Said I Love U…
U Asked Me: “What Is It?”

When U Were 15 Yrs Old
I Said I Love U…
U Blushed.. U Look Down And Smile.

When U Were 20 Yrs Old
I Said I Love U…
U Put Ur Head On My Shoulder And Hold My Hand…
Afraid That I Might Disappear…

When U Were 25 Yrs Old
I Said I Love U…
U Prepare Breakfast And Serve It In Front Of Me, And Kiss My Forhead
and Said: “U Better Be Quick, It’s Gonna Be Late…”

When U Were 30 Yrs Old
I Said I Love U…
U Said: “If U Really Love Me, Please Come Back Early After Work…”

When U Were 40 Yrs Old
I Said I Love U…
U Were Cleaning The Dining Table And Said: “Ok Dear, But It’s Time For
U To Help Our Child With His/Her Revision…”

When U Were 50 Yrs Old
I Said I Love U…
U Were Knitting And U Laugh At Me…

When U Were 60 Yrs Old
I Said I Love U…
U Smile At Me…

When U Were 70 Yrs Old
I Said I Love U…
We Sitting On The Rocking Chair With Our Glasses On.
I’m Reading Your Love Letter That U Sent To Me 50 Yrs Ago.
With Our Hand Crossing Together…

When U Were 80 Yrs Old
U Said U Love Me!
I Didn’t Say Anything But Cried…

That Day Must Be The Happiest Day Of My Life!
Because U Said U Love Me!!!

Please Appreciate Your Loved Ones…
Say “I Love You” To Them When U Have The Chance Now!!!

Posted by pangea99 at 05:00:30 | Permalink | No Comments »

Saturday, May 24, 2008

kepribadian

Percayakah Anda bahwa 75% pribadi seseorang dipengaruhi oleh masyarakat dan lingkungan di sekitar nya dan sisanya baru dipengaruhi oleh keluarga?

Beberapa kali diskusi bersama teman, hal itu cukup masuk akal dimana hampir sebagian besar waktu kita sehari-hari berada di luar rumah, bergaul dengan orang lain dengan berbagai lapisan, golongan, strata, dan berbagai latar belakang pendidikan dan budaya yang berbeda yang akhirnya semakin kayalah pengetahuan dan cara pandang kita dalam mensikapi sesuatu dan akhirnya juga ke kepribadian seseorang..

Tetapi terlepas dari itu semua juga ada faktor internal, yaitu diri sendiri, apakah kita sendiri memiliki karakter yang introvert (tertutup) atau extrovert (terbuka) dengan lingkungan sekitar, seseorang yang punya pribadi tertutup akan lebih punya prinsip dan idealisme dalam hidup.. jikalau menurut dia sesuatu yang dilakukannya ini benar, maka akan dipertahankannya hingga habis-habisan, di satu sisi pribadi yang terbuka menjadikan seseorang lebih terbuka dalam masukan dan pandangan-pandangan disekitarnya

Semua tentu ada plus dan minusnya, tetapi pesan yang mau disampaikan adalah janganlah men-judge seseorang karena lingkungan keluarganya tetapi perhatikanlah juga dengan siapa mereka itu bergaul..

Posted by pangea99 at 03:56:14 | Permalink | No Comments »

Monday, May 19, 2008

Hali libur = Istirahat

Setiap kali libur, aku bukannya ingin melancong atau pergi kemana-mana tetapi inginnya sebenarnya berdiam diri di rumah/kamar atau sekedar melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan yang nggak membuat terforsir tenaga ini, pertanyaannya kenapa…

Dahulu aku sering sekali pergi jalan keluar rumah saat cuti atau libur, saking asiknya sampai larut malam sampai di rumah. Tetapi dari itu semua apa yang kudapat..

1. Esensi untuk berkumpul bersama keluarga tidak ada
Kenapa seseorang diberi libur/cuti.., karena agar kita bisa ber-istirahat dan berkumpul dengan keluarga, bersantai ria dan re-charge diri kita ini dari segala kepenatan. Pendapat ini tentunya sifatnya subjektif belaka. Saat kita libur panjang/cuti atau hari libur.. kita asyik bermain dengan teman-teman sampai larut malam, tetapi justru waktu berkumpul dengan keluarga malah berkurang. Akhirnya tujuan untuk bercuti dan berlibur malah dihabiskan untuk bersenang-senang dengan teman dan bukan sharing dengan keluarga, berbagi kasih dan perhatian serta kehangatan… itu semua sirna sepertinya

2. Istirahat tidak ada
Justru karena bermain-main sampai larut malam akhirnya malah capek, akhirnya waktu kita yang harusnya untuk beristirahat jadi percuma, mungkin puas karena capek bisa kesana-kemari tetapi rasa capek karena bermain bersama teman akan percuma

Bukankah keluarga kita juga menantikan saat-saat kita bisa cuti/liburan atau sekedar bercengkerama bersama mereka (ayah, ibu, saudara), mereka senantiasa menunggu Anda untuk memberikan waktu kepada mereka, berkumpul dan sharing di saat-saat Anda libur

jangan lupa bhawa keluargalah yang akan selalu support kita saat di atas amupun dibawah.. 

Posted by pangea99 at 09:56:07 | Permalink | No Comments »

Friday, May 16, 2008

Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan

Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering
ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang
berjudul: Azim Premji, “Bill Gates” dari India (terbitan Mizania 2007).

Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro,
dari sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan
dengan salah satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon
kebangkitan industri teknologi informasi di India . Dia urutan ke-21
orang terkaya di dunia versi Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner
yang bergaya hidup sederhana.

Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak
betah dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tingkat turn-over
(kepindahan) karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih
tinggi dibandingkan perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS.

Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan?

Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian
karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang
meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih
menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan
pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini.

Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer
software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan
internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India
sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah
mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering

dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat.
Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor
yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang
menyediakan makanan lezat.

Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri
untuk pelatihan. “Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru”,
katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat
dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah
dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran
lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana
lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini.

Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia
pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung
karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi
walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama
yang mendorong banyak orang berbakat pergi.

Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan
oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta
karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam
sebuah buku berjudul First Break All the Rules.

Penemuannya adalah sebagai berikut:

Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan
langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia
adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia
adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman,
dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang
meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus
Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules.

Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan
mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar,
fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab
kebanyakan orang keluar adalah manajer.. Kalau Anda punya masalah
pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda
terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu
sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan
uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai.
Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya.

Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang
bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa
hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang
sulit.

Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan
yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional
dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk
tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang
paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan
mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam.
Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya,
dia mulai mencari pekerjaan yang lain.

Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka
melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan
memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan
tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang
krusial kepada sang bos.

Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang
tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah.
Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu.

Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda:
dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu,
juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset
tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama,
seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak
remeh.

Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99
pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan
pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau
alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan,
kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti
yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari
puluhan orang seperti kamu.

Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat
biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari
penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki
seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan
klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril
sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang
dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja,
kehilangan reputasi perusahaan.

Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya,
entah tentang kebaikan atau keburukan. Demikian pesan Azim Premji.

Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan) ?

Posted by pangea99 at 03:04:05 | Permalink | No Comments »

Monday, May 12, 2008

Ajari Aku Memeluk Landak

Yulia menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah.
 
Belum ada.
 
Yulia masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi.
 
Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya
berulang kali untuk makan duluan, tidak dia gubris.
 
Pukul 18.30. Tinnn… Tiiiinnnnn.. .!! Yulia kecil melompat girang!
 
Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dia cintai itu masuk ke rumah.
 
Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu mengempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Yulia juga, yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil,
Yulia cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang.
 
“Mama, mama…. Mama, mama….” Yulia menggerak-gerakkan tangan.
“Mama….” Mama diam saja. Dengan cemas Yulia bertanya, “Mama sakit ya?
Mana yang sakit? Mam, mana yang sakit?”
 
Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata.
 
Yulia makin gencar bertanya, “Mama, mama… mana yang sakit? Yulia ambilin obat ya? Ya? Ya?”
 
Tiba-tiba… “Yulia!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!”
 
Mama membentak dengan suara tinggi.
 
Kaget…!!
 
Yulia mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung.
 
Yulia salah apa? Yulia sayang Mama… Yulia salah apa? Takut-takut, Yulia menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Yulia terus bertanya-tanya: Mama, Yulia salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Yulia? Yulia
mengganggu Mama?Yulia tidak boleh sayang Mama, ya? Berbagai peristiwa sejenis terjadi.
 
Dan otak kecil Yulia merekam semuanya. Maka tahun-tahun berlalu. Yulia tidak lagi kecil. Yulia bertambah tinggi. Yulia remaja. Yulia mulai beranjak menuju dewasa.
Tin.. Tiiinnn… ! Mama pulang. Papa pulang. Yulia menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan.
 
“Yulia mana?”
 
“Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya.”
 
Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku?
 
Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua!
 
Tidak seperti jaman dulu.
 
Di atas, Yulia mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat di mana ia tidak akan terluka. “Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?”
 
Kata Bijak Hari Ini:
Satu cara terpenting dalam membantu anak-anak tumbuh dewasa adalah: Kita harus tumbuh dewasa terlebih dahulu.
Posted by pangea99 at 21:13:35 | Permalink | No Comments »

Thursday, May 8, 2008

Apakah Tuhan menciptakan kejahatan ?

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada?
Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?
 
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.
 
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.
“Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi.
“Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.
 
“Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
 
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor  
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
 
Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.
 
Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?”. Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.”
Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.” Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?”
 
 
Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah  kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.
 
“Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.” Profesor itu terdiam.
 
Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein.

Posted by pangea99 at 08:16:20 | Permalink | No Comments »

Kebahagiaan Tenzing Norgay

Tenzing Norgay adalah nama orang. Mungkin Anda pernah membaca atau mendengar namanya…mungkin juga belum…bagaimana kalau saya sebutkan nama Sir Edmund Hillary…ya kalau yang ini sih saya sering dengar atau pernah baca biografinya atau pernah mendapatkan kisah hidupnya dalam sebuah artikel atau sewaktu mengikuti seminar. Ya, Sir Edmund Hillary adalah orang pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi dunia Puncak Gunung Everest. Tetapi saat ini bukan Sir Edmund Hillary yang akan kita bahas, tetapi Tenzing Norgay.

Tenzing Norgay seorang penduduk asli Nepal yang bertugas sebagai pemandu bagi para pendaki gunung yang berniat untuk mendaki gunung Everest. Tenzing Norgay menjadi pemandu (orang nepal menyebutnya Sherpa) bagi Sir Edmund Hillary. Pada tanggal 29 Mei 1953 jam 11.30, Tenzing Norgay bersama dengan Sir Edmund Hillary berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi Everest pada ketinggian 29,028 kaki diatas permukaan laut dan menjadi orang pertama didunia yang kemudian menjadi inspirasi dan penyemangat bagi ratusan pendaki berikutnya untuk mengikuti prestasi mereka. Pada rentang waktu tahun 1920 sampai dengan tahun 1952, tujuh tim ekspedisi yang berusaha menaklukkan Everest mengalami kegagalan.

Keberhasilan Sir Edmund Hillary pada saat itu sangat fenomenal mengingat baru berakhirnya Perang Dunia II dan menjadi semacam inspirator untuk mengembalikan kepercayaan diri bagi seluruh bangsa di dunia. Karena keberhasilannya, Sir Edmund Hillary mendapatkan gelar kebangsawanan dari Ratu Inggris yang baru saja dilantik saat itu Ratu Elizabeth II,dan menjadi orang yang paling dikenal di seluruh dunia.

Tetapi dibalik keberhasilan itu Tenzing Norgay memiliki peran yang sangat besar, berikut cuplikannya :

Reporter : Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?

Tenzing Norgay : Sangat senang sekali

Reporter : Anda kan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest?

Tenzing Norgay : Ya, benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia….

Reporter : Mengapa Anda lakukan itu?

Tenzing Norgay : Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary , bukan impian saya…..impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN nya.

Ya, itulah sekelumit kisah tentang seorang pemandu pendaki bernama Tenzing Norgay. Ia tidak menjadi serakah, ataupun iri dengan keberhasilan, nama besar dan semua penghargaan yang diperoleh Sir Edmund Hillary. Ia cukup bangga dapat membantu orang lain mencapai & mewujudkan IMPIAN nya.

Posted by pangea99 at 08:10:16 | Permalink | No Comments »

Sunday, May 4, 2008

phase 3 Banyu Urip

Today at May 4th, the Banyu Urip project has put its one of the important of its milestone, the Banyu Urip Proect set its Phase 1 on the milestone at Dec 30th 2007 when finished the first topping off and the Phase 2 began on the first quarter of 2008, and today its set the Phase 3, the Enhancement.

The Phase 3 actually became 3 months ahead than the original schedule which should be around August 2008, by the time it is very amazing though.., the Phase 2 has not finished yet.

Banyu Urip Project is a big project for coming years to come, this project sanction has been done at the end of 2007 and now has rapidly in progress for the next phase, the Production phase which scheduled on the Q4 2009.

Posted by pangea99 at 19:40:41 | Permalink | No Comments »