Sunday, June 29, 2008

060708

Hari ini aku akan terbang ke Jogja untuk mengurusi pernikahan, finally this year I am going to get married.. setelah sekian lama akhirnya aku menemukan bahwa tanggal 6 Juli 2008 ini akan menikah dengan doi. Persiapannya sih nggak lama, cuman sebentar saja.. tetapi ribetnya :) tetapi mungkin disitulah letak misteri sebuah pernikahan, sehingga apabila ingin cerai musti dipikir masak-masak apakah tidak merasa rugi setelah sekian lama menjalin suatu hubungan dengan segala ritme naik-turunnya serta persiapan nikah yang begitu banyak ganjalan dan cobaannya.. mungkin ini salah satu karunia Tuhan :)

Aku dalam hal ini juga menyampaikan rasa terima kasihku kepada orang-orang yang dengan sukarela mau membantu proses pernikahan ini, semoga semuanya berjalan lancar :) tiada suatu halangan.

Mencoba menilik balik ke belakang, apabila melihat apa yang pernah kami lalui sungguh tidak mudah, semua penuh cobaan, dari yang berselisih paham hingga yang ketawa ketiwi nggak karuan.. seperti nggak layaknya orang yang sudah siap menikah ;)

Tuhan memang membuat segalanya baik di matanya, maka kami dipersatukan dalam suatu ikatan pernikahan yang kudus.. tanggal 6 Juli 2008 akan menjadi saksi buat kami berdua

Tunggu tanggal mainnya….

Posted by pangea99 at 00:10:41 | Permalink | No Comments »

Thursday, June 19, 2008

Kosan

Pindah ke kosan baru ternyata nggak mengenakan, bukan karena apa-apa, tetapi barang-barang yang sudah settle di kosan lama, musti pelan-pelan mulai dipindahken ke tempat baru. tetapi tentunya nggak semuanya, karena barang-barang di kosan lama berupa buku-buku akan sangat tidak mungkin ditempatkan di kosan baru meskipun kosan baru lebih besar daripada yang lama, tetapi tempatnya tidak memungkinkan seseorang untuk memindahkan semua barang kesana..

Kosan baru ini memang cukup eksklusif (baca: eklusip), karena ada air panasnya, AC, dibersihkan tiap hari, kulkas, TV, lemari, sprei spring bed ukuran king-size, fasilitas fitness, bertempat di tempat strategis (kata mereka) huhuhu… aku sih sing penting bisa tidur aja udah cukup, lha wong juga hampri jarang ada di kosan ;)

Doi saat ini lagi ke Medan, Sumut bersama papa dan mama menggunakan mobil dari jakarta, that’s a long trip for sure !! kadang pingin juga seperti itu, tetapi kalau lama banget ya bosen dan capek juga, terutama nanti saat mau pulang baliknya….hufff… pasti melelahkan sekali

Kantor cukup baik-baik saja, setelah kemarin dibantai abis-abisan sampai istilahnya berdarah-darah karena request yang sifatnya dadakan dan tak tentu arah.. as usual hehehe sampai pulang di kosan langsung mandi dan merokok dahulu untuk release pressure ;)

Tadi barusan meeting dengan team EPLT alias penggede-penggedenya Hess Worldwide seperti John O’Connor (President E&P Hess Worldwide) dan bos-bos yang laen… hehehe ini tooh bos Hess, belum ketemu dengan John B Hess nya sih (Hess CEO), tetapi pati akan sangat bagus tuuh, secara belum pernah lihat sendiri… cuman lihat di foto dan internal website kumpeni

btw kapan-kapan sambung lagi yah…

Posted by pangea99 at 08:31:30 | Permalink | Comments (1) »

Monday, June 9, 2008

Jogja

Minggu ini kembali ke rutinitas keseharian… ngantoooorrrrrr !!!! setiap kali meninggalkan kota Jogjakarta, entah itu di airport ataupun di stasiun kereta selalu saja terasa berat hati, kota Jogja terlalu baik untuk ditinggalkan… tetapi anehnya kalau pakai bis enggak seperti itu (karena mungkin sudah sempet lari-lari dahulu, desak-desakan sehingga udah capek dan mangkel dulu).

Seperti kemarin saat aku pulang ke Jogja dan sesaat mau meninggalkan kota itu di dalam mobil yang hendak menurunkan aku di airport, beliau berkata..”jangan lupa sering tilpun ya..?”… aku sungguh merasa bersalah hingga aku harus di-ingatkan.

Jogja merupakan kota kecil, bukanlah kota besar.. tidak ada yang menarik mungkin bagi orang yang ke Jogja, untuk lahan bisnis nggak/sulit berkembang, untuk maju juga sulit karena waktu di Jogja terasa melambat, tetapi menurutku dibalik itu semua ada rasa dimana aku sulit meninggalkan Jogja..

Posted by pangea99 at 11:01:21 | Permalink | Comments (1) »

Monday, June 2, 2008

Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat

Based on True Story..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak S uyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka. “Anak-anakku ……… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah……tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.

“Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu.

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama  dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk  mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit..”

Posted by pangea99 at 09:59:57 | Permalink | Comments (1) »